MORFOLOGI
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari
seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap
golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi
mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk
kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.
Dalam ilmu morfologi, terdapat morfem yaitu bagian terkecil dari sebuah
kata.
Pembagiannya
seperti ini :
1. Sebuah
wacana dapat dipecah menjadi kalimat
2. Kalimat
dapat dipecah menjadi bagian makna terkecil, yaitu kata
3. Kata
dapat terdiri atas beberapa morfem, contohnya menanamkan = me-tanam-kan, bisa
juga hanya terdiri atas satu morfem, misalnya rumah, kursi, selamat, eksekusi.
B. Morfem
1. Pengertian Morfem
Morfem adalah suatu bentuk bahasa yang tidak
mengandung bagian-bagian yang mirip dengan bentuk lain, baik bunyi maupun
maknanya. (Bloomfield, 1974: 6).
Morfem adalah unsur-unsur terkecil yang memiliki makna
dalam tutur suatu bahasa (Hookett dalam Sutawijaya, dkk.). Kalau dihubungkan
dengan konsep satuan gramatik, maka unsur yang dimaksud oleh Hockett itu,
tergolong ke dalam satuan gramatik yang paling kecil.
Morfem, dapat juga dikatakan unsur terkecil dari pembentukan
kata dan disesuaikan dengan aturan suatu bahasa. Pada bahasa Indonesia morfem
dapat berbentuk imbuhan. Misalnya kata praduga memiliki dua morfem yaitu /pra/
dan /duga/. Kata duga merupakan kata dasar penambahan morfem /pra/
menyebabkan perubahan arti pada kata duga. (http://id.wikipedia.org/wiki/linguistik).
Berdasarkan konsep-konsep di atas di atas dapat
dikatakan bahwa morfem adalah satuan gramatik yang terkecil yang mempunyai
makna, baik makna leksikal maupun makna gramatikal.
Kata memperbesar misalnya, dapat kita potong
sebagai berikut
mem–perbesar
per-besar
Jika besar dipotong lagi, maka be- dan –sar
masing-masing tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per-, dan besar
disebut morfem. Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti besar,
dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain,
seperti mem- dan per-, dinamakan morfem terikat. Contoh memperbesar
di atas adalah satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem
terikat mem- dan per- serta satu morfem bebas, besar.
2. Morf dan Alomorf
Morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk untuk
sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk sebuah bentuk yang belum
diketahui statusnya (misal: {i} pada kenai); sedangkan alomorf adalah
nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui statusnya (misal [b¶r], [b¶],
[b¶l] adalah alomorf dari morfem ber-. Atau bias dikatakan bahwa anggota
satu morfem yang wujudnya berbeda, tetapi yang mempunyai fungsi dan makna yang sama
dinamakan alomorf. Dengan kata lain alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam
penuturan) dari sebuah morfem. Jadi setiap morfem tentu mempunyai almorf, entah
satu, dua, atau enam buah. Contohnya, morfem meN- (dibaca: me nasal):
me-, mem- men-, meny-, meng-, dan menge-. Secara fonologis, bentuk me-
berdistribusi, antara lain, pada bentuk dasar yang fonem awalnya konsonan
/I/ dan /r/; bentuk mem- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem awalnya
konsonan /b/ dan juga /p/; bentuk men- berdistribusi pada bentuk dasar yang
fonem awalnya /d/ dan juga /t/; bentuk meny- berdistribusi pada bentuk dasar
yang fonem awalnya /s/; bentuk meng- berdistribusi pada bentuk dasar yang fonem
awalnya, antara lain konsonan /g/ dan /k/; dan bentuk menge- berdistribusi pada
bentuk dasar yang ekasuku, contohnya {menge}+{cat}= mengecat. Bentuk-bentuk
realisasi yang berlainan dari morfem yang sama tersebut disebut alomorf.
3. Prinsip-prinsip Pengenalan
Morfem
Untuk mengenal morfem secara jeli dalam bahasa
Indonesia, diperlukan petunjuk sebagai pegangan. Ada enam prinsip yang saling
melengkapi untuk memudahkan pengenalan morfem (Lihat Ramlan, 1980), yakni
sebagai berikut:
a. Prinsip pertama
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis dan
arti atau makna yang sama merupakan satu morfem.
membaca
kemanusiaan
Contoh:
baca
ke-an
pembaca
kecepatan
bacaan
kedutaan
membacakan
kedengaran
Karena struktur fonologis dan
Satuan tersebut
walaupun
maknanya sama, maka satuan
struktur fonologisnya
sama,
tersebut merupakan morfem
bukan merupak
morfem
yang
sama.
yang sama
karena makna gramatikalnya berbeda.
b. Prinsip Kedua
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonolis yang
berbeda, merupakan satu morfem apabila bentuk-bentuk itu mempunyai arti atau
makna yang sama, dan perbedaan struktur fonologisnya dapat dijelaskan secara
fonologis. Perubahan setiap morf itu bergantung kepada fonem awal morfem yang
dilekatinya.
Contoh:
mem –
:
membawa
meN-
men
–
: menulis
meny
–
: menyisir
meng
–
: menggambar
me-
: melempar
Perubahan setiap morf itu bergantung kepada fonem awal
morfem yang dilekatinya.
c. Prinsip Ketiga
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur ontologis yang
berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologis, masih
dapat dianggap sebagai satu morfem apabila mempunyai makna yang sama, dan
mempunyai distribusi yang komplementer. Perhatikan contoh berikut:
ber- :
berkarya, bertani, bercabang
bel- :
belajar, belunjur
be-
: bekerja, berteriak, beserta
Kedudukan afiks ber- yang tidak dapat bertukar tempat
itulah yang disebut distribusi komplementer.
d. Prinsip Keempat
Apabila dalam deretan struktur, suatu bentuk
berpararel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu merupakan morfem, ialah
yang disebut morfem zero.
Misalnya:
- Rina
membeli sepatu
- Rina
menulis surat
- Rina
membaca novel
- Rina
menggulai ikan
- Rina
makan pecal
- Rina
minum susu
Semua kalimat itu berstruktur SPO. Predikatnya
tergolong ke dalam verba aktif transitif. Lau pada kalimat a, b. c, dan d,
verba aktif transitif tersebut ditandai oleh meN-, sedangkan pada kalimat e dan
f verba aktif transitif itu ditandai kekosongan (meN- tidak ada), kekosongan
itu merupakan morfem, yang disebut morfem zero.
e. Prinsip Kelima
Bentuk-bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang
sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda.
Apabila bentuk yang mempunyai struktur fonologis yang sama itu berbeda
maknanya, maka tentu saja merupakan fonem yang berbeda.
Contoh:
- a.
Jubiar membeli buku
b. Buku itu sangat mahal
- a.
Juniar membaca buku
b.
Juniar makan buku tebu
Satuan buku pada kalimat 1. a dan 1. b
merupakan morfem yang sama karena maknanya sama. Satuan buku pada kalimat
kalimat 2. a dan 2. b bukanlah morfem yang sama karena maknanya berbeda.
f. Prinsip
Keenam
Setiap bentuk yang tidak dapat dipisahkan merupakan
morfem. Ini berarti bahwa setiap satuan gramatik yang tidak dapat dipisahkan
lagi atas satuan-satuan gramatik yang lebih kecil, adalah morfem. Misalnya,
satuan ber– dan lari pada berlari, ter– dan tinggi
pada tertinggi tidak dapat dipisahkan lagiatas satuan-satuan yang lebih
kecil. oleh karena itu, ber-, lari, ter, dan tinggi
adalah morfem.
4. Klasifikasi Morfem
a. Morfem Bebas dan Morfem
Terikat
Morfem ada yang bersifat bebas dan
ada yang bersifat terikat. Dikatakan morfem bebas karena ia dapat berdiri
sendiri, dan dikatakan terikat jika ia tidak dapat berdiri sendiri.
Misalnya:
1.
Morfem bebas
– “saya”, “buku”, dsb.
2.
Morfem
terikat – “ber-“, “kan-“, “me-“, “juang”, “henti”, “gaul”, dsb.
b. Morfem Segmental dan Morfem Supra Segmental
Morfem segmental adalah morfem yang
terjadi dari fonem atau susunan fonem segmental. Sebagai contoh, morfem {rumah},
dapat dianalisis ke dalam segmen-segmen yang berupa fonem [r,u,m,a,h].
Fonem-fonem itu tergolong ke dalam fonem segmental. oleh karena itu, morfem
{rumah} tergolong ke dalam jenis morfem segmental.
Morfem supra segmental adalah
morfem yang terjadi dari fonem suprasegmental. Misal, jeda dalam bahasa
Indonesia. Contoh:
1. bapak
wartawan
bapak//wartawan
2. ibu
guru
ibu//guru
c. Morfem Bermakna Leksikal
dan Morfem Tak Bermakna Leksikal
Morfem yang bermakna leksikal
merupakan satuan dasar bagi terbentuknya kata. morfem yang bermakna leksikal
itu merupakan leksem, yakni bahan dasar yzng setelah mengalami pengolahan
gramatikal menjadi kata ke dalam subsistem gramatika. Contoh: morfem {sekolah}.
berarti ‘tempat belajar’.
Morfem yang tak bermakna leksikal
dapat berupa morfem imbuhan, seperti {ber-}, {ter-}, dan {se-}. morfem-morfem
tersebut baru bermakna jika berada dalam pemakaian. Contoh: {bersepatu} berarti
‘memakai sepatu’.
d. Morfem Utuh dan Morfem Terbelah
Morfem utuh merupakan morfem-morfem
yang unsur-unsurnya bersambungan secara langsung. Contoh: {makan}, {tidur}, dan
{pergi}.
Morfem terbelah morfem-morfem yang
tidak tergantung menjadi satu keutuhan. morfem-morfem itu terbelah oleh morfem
yang lain. Contoh: {kehabisan} dan {berlarian} terdapat imbuhan ke-an atau
{ke….an} dan imbuhan ber-an atau {ber….an}. contoh lain adalah morfem{gerigi}
dan {gemetar}. Masing-masing morfem memilki morf /g..igi/ dan /g..etar/. Jadi,
ciri terbelahnya terletak pada morfnya, tidak terletak pada morfemnya itu
sendiri. morfem itu direalisasikan menjadi morf terbelah jika mendapatkan
sisipan, yakni morfem sisipan {-er-} pada morfem {gigi} dan sisipan {-em-} pada
morfem {getar}.
e. Morfem Monofonemis dan Morfem
Polifonemis
Morfem monofonemis merupakan morfem
yang terdiri dari satu fonem. Dalam bahasa Indonesia pada dapat dilihat pada
morfem {-i} kata datangi atau morfem{a} dalam bahasa Inggris pada
seperti pada kata asystematic.
Morfem polifonemis merupakan morfem
yang terdiri dari dua, tiga, dan empat fonem. Contoh, dalam bahasa Inggris
morfem {un-} berarti ‘tidak’ dan dalam bahasa Indonesia morfem {se-} berarti
‘satu, sama’.
f. Morfem Aditif, Morfem
Replasif, dan Morfem Substraktif
Morfem aditif adalah morfem yang
ditambah atau ditambahkan. kata-kata yang mengalami afiksasi, seperti yang
terdapat pada contoh-contoh berikut merupakan kata-kata yang terbentuk dari
morfem aditif itu.
1.
mengaji
2. childhood
berbaju
houses
Morfem replasif merupakan morfem
yang bersifat penggantian. dalam bahasa Inggris, misalnya, terdapat morfem
penggantian yang menandai jamak. Contoh: {fut} à {fi:t}.
Morfem substraktif adalah morfem
yang alomorfnya terbentuk dari hasil pengurangan terhadap unsur (fonem) yang
terdapat morf yang lain. Biasanya terdapat dalam bahasa Perancis.
C. Proses Morfologis
Proses morfologis dapat dikatakan sebagai proses
pembentukan kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang
lain yang merupakan bentuk dasar (Cahyono, 1995: 145). Dalam proses morfologis
ini terdapat tiga proses yaitu: pengafiksan, pengulangan atau reduplikasi, dan
pemajemukan atau penggabungan.
1. Pengafiksan
Bentuk (atau morfem) terikat yang dipakai untuk
menurunkan kata disebut afiks atau imbuhan (Alwi dkk., 2003: 31). Pengertian
lain proses pembubuhan imbuhan pada suatu satuan, baik satuan itu berupa bentuk
tunggal maupun bentuk kompleks, untuk membentuk kata (Cahyono, 1995:145).
Contoh:
- Berbaju
- Menemukan
- Ditemukan
- Jawaban.
Bila dilihat pada contoh, berdasarkan letak morfem
terikat dengan morfem bebas pembubuhan dapat dibagi menjadi empat, yaitu
pembubuhan depan (prefiks), pembubuhan tengah (infiks), pembubuhan akhir
(sufiks), dan pembubuhan terbelah (konfiks).
2. Reduplikasi
Reduplikasi adalah pengulangan satuan gramatikal, baik
seluruhnya maupun sebagian, baik disertai variasi fonem maupun tidak (Cahyono,
1995:145).
Contoh: berbulan-bulan, satu-satu, seseorang,
compang-camping, sayur-mayur.
3. Penggabungan atau Pemajemukan
Proses pembentukan kata dari dua morfem bermakna
leksikal (Oka dan Suparno, 1994:181).
Contoh:
- Sapu
tangan
- Rumah
sakit
4. Perubahan Intern
Perubahan intern adalah perubahan bentuk morfem yang
terdapat dalam morfem itu sendiri.
Contoh: dalam bahasa Inggris
Singular
|
plural
|
Foot
Mouse
|
Feet
mice
|
5. Suplisi
Suplisi adalah proses morfologis yang menyebabkan
adanya bentuk sama sekali baru.
Contoh: dalam bahasa Inggris
Go
went
sing
sang
6. Modifikasi kosong
Modifikasi kosong ialah proses morfologis yang tidak
menimbulkan perubahan pada bentuknya tetapi konsepnya saja yang berubah.
Contoh: read- read-read
D. Proses Morfofonemik
Proses perubahan fonem sebuah morfem yang digunakan
untuk mempermudah ucapan.
Contoh:
Perubahan prefiks meng-
– meng +
asah = mengasah
– meng + lihat =
melihat
– menga +
datangkan = mendatangkan
– meng + terjemah
= menerjemahkan
– meng + patuhi =
mematuhi
E. Proses morfemis menurut Verhaar
- Afiksasi
adalah pengimbuhan afiks
- Prefix
adalah imbuhan di sebelah kiri bentuk dasar.
Contoh: mengajar
- Sufiks
adalah imbuhan di sebelah kanan bentuk dasar
Contoh: ajarkan
- Infiks
adalah imbuhan yang disisipkan dalam kata dasar
Contoh: gerigi
- Konfiks
adalah imbuhan dan akhiran pada sebuah bentuk dasar
Contoh: perceraian
- Fleksi
adalah afiksasai yang terdiri atas golongan kata yang sama
Contoh: mengajar – diajar
3. Derifasi adalah afiksasi yang terdiri atas
golongan kata yang tidak sama
Contoh: mengajar – pengajar
- Klitika
adalah morfem pendek yang tidak dapat diberi aksen atau tekanan melekat
pada kata atau frasa lain dan meiliki arti yang tidak mudah untuk dideskripsikan
secara leksikal, serta tidak melekat pada kelas kata tertentu.
Contoh: -pun, -lah
sekalipun
apalah
MORFEM BEBAS
1. Adalah
2. Aktivitas
3. Atau
4. Hobi
5. Prangko
6. Dan
7. Pos
8. Seperti
9. Sampul
10. Hari
11. Pertama
12. Pos
13. Itu
14. Edisi
15. Lama
16. Meski
17. Edisi
18. Baru
20. Juga
21. Ikut
22. Tua
23. Usia
24. Benda
25. Pos
26. Maka
27. Di
28. Indonesia
29. Dari
30. PT
31. P
32. Indonesia
33. Di
34. Setiap
35. Kantor
36. Pos
37. Besar
38. Loket
39. Atau
40. Ruang
MORFEM TERIKAT
1. Mengumpulkan
2. Lainnya
3. Pengumpulan
4. Kebannyakan
5. Mengutamakan
6. Dikumpulkan
7. Semakin
8. Tersebut
9. Harganya
10. Semakin
11. Tersebut
12. Harganya
13. Semakin
14. Tertinggi
15. Kegiatan
16. Mendapat
17. Dukungan
18. Terdapat
REDUPLIKASI
1. Benda-Benda