Senin, 27 Februari 2017

HAKEKAT BAHASA




 HAKEKAT BAHASA

  Pengertian bahasa
Sebagai etimologi, sitilah berasal dari bahasa Latin lingua. Dalam bahasa itali “bahasa” disebut linguaggio dan lingua, bahasa perancis menyebut ”bahasa” sebagai language dan langue, dalam bahasa spnyol “bahasa” disebut dengan lengua dan disebut dengan language dalam bahasa inggris.
Penyebutan “bahasa” terdiri dari dua konsep utama dalam kajian linguistik yaitu penyebutan bahasa secara umum (bersifat koloquel) seperti langage (bahasa Prancis), linguaggio (bahasa Itali) dan juga penyebutannya  bahasa pada bahasa tertentu atau suatu sistem linguistik tertentu langue (dalam bahasa Prancis), lingua (bahasa Itali), dan lengua (bahasa Spanyol). Akan tetapi, language dalam bahasa inggris dapat digunakan untuk ,menanamkan bahasa  secara umum atau digunakan untuk menyebut atau bahasa tertentu, demikian halnya dengan istilah “bahasa” dalam bahasa indonesia.
Bahasa sebagai sebuah system lambang bunyi yang arbiter, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri Kridalaksana ( 1993:21 ).

B.      Hakikat Bahasa
Pakar linguistik telah merumuskan banyak hal tentang hakikat bahasa, rumusan rumusan tersebut jika dibutirkan akan menghasilkan sejumlah ciri atau sifat yang merupakan hakikat bahasa. Sifat-sifat tersebut pula yang telah didefinisikan oleh pakar-pakar liguistik diatas dalam menemukan berbagai sifat-sifat bahasa.
1.       Bahasa itu sistematik
Sistematik berarti beraturan atau berpola. Dalam hal bunyi, tidak sembarangan bunyi bisa dipakai sebagai suatu symbol dari suatu rujukan dalam berbahasa.
Contoh dari tataran fonologi dalam bahasa Indonesia terdapat satu buag bunyi bermakna.
2.       Bahasa itu manasuka (Arbiter)
Manasuka atau arbiter adalah acak, bisa muncul tanpa alasan. Kata-kata adalah symbol dalam bahasa, sebuah kata dapat muncul tanpa hubungan logis dengan yang disimbolkannnya. Orang Minahasa menamai beras dengan sebutan kan, itu terserah komunitas orang Minahasa, biarlah orang jawa menanamkannya sego, atau orang Ranau disumatra Selatan menyebutnya mi. Bukti-bukti diatas menjadi bukti bahwa bahasa memiliki sifat arbiter, manasuka, atau acak semuanya. Pemilihan bunyi dan kata dalam hal ini benar-benar sangat bergantung pada konvensi atau kesepakatan pemakai bahasa suatu bahasa.
3.       Bahasa itu bunyi
Bahasa mewujud dalam bentuk bunyi. Kemajuan teknologi dan perkembangan kecerdasan manusia memang telah melahirkan bahasa dalam wujud tulis, tetapi system tulis tidak bisa menggantikan ciri bunyi dalam bahasa.
4.       Bahasa  itu simbol
Symbol adalah lambang sesuatu, bahasa juga adalah lambang sesuatu. Titik-titik air yang jatuh dari langit diberi symbol dengan dengan bahasa denag bunyi tertentu. Bunyi tersebut jika ditulis adalah hujan. Hujan adalah symbol linguisticyang bisa disebut kata untuk melambangkan titik-titiktitik air yang jatuh dari langit itu.
5.       Bahasa itu mengacu pada dirinya.
Bunyi-bunyi yang digunakan manusia bisa digunakan untuk menganalisis bunyi itu sendiri. Dalam istilah linguistic, kondisi seperti itu disebut dengan metalaguange, yaitu bahasa bisa dipakai untuk membicarakan itu sendiri.
6.       Bahasa itu manusiawi
Bahasa itu manusiawi dalam artian bahwa itu adalah kekayaan yang hanya dimiliki umat manusiawi. Manusialah yang berbahasa sedangkan hewan dan tumbuhan tidak.
7.       Bahasa itu komunikasi
Fungsi terpenting bahasa adalah komunikasi dan interaksi. Komunikasi mencakup makna mengungkapkan dan menerima pesan, caranya bisa dengan bebicara, mendengar, menulis, atau membaca. Komunikasi tidak hanya berlangsung antar manusia yang hidup pada satu jaman, komunikasi itu bisa dilakukan antar manusia pada jaman yang hidup pada jaman yang berbeda, tentu saja meskipun hanya satu arah, contohnya nabi Muhammad SAW telah meninggal beberapa ratus tahun silam, tetapi ajaran-ajarannya telah berhasil dikomunikasikan kepadaumat manusia pada masa sekarang.
 
C.      Cikal bakal bahasa indonesia
Bahasa indonesia secara resmi diakui sebagai bahasa nasional pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional merupakanusulan dari Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di jakarta, Yaman mengatakan bahwa : “Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa”.
Bahasa melayu terus mengalami perkembangan pesat disebabkan oleh beberapa aspek, yaitu ;
1). Bahasa kebudayaan yang berisi aturan-aturan hidup dan bahasa sastra.
2). Bahasa perhubungan antarsuku di Indonesia.
3). Bahasa perdagangan.
4). Bahasa resmi kerajaan.
                Akibat jangkauan pemakaian yang luas dan meneriman berbagai unsur serapan dari bahasa lain, bahasa Melayu berkembang sangat pesat, sehingga berbentuk menajdi bahasa modern, dan diikrarkan dalam sumpah pemuda menjadi bahasa indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928. Ditinjau dari leskikologi bahasa ini mengalami pertumbuhan kosakata yang sangat banyak, namun tetap stabil dari segi struktur.

Sumber : Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka cipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar