BAHASA
BAKU DAN TIDAK BAKU
A. Pengertian
bahasa baku
Halim
(1980) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan
diakui oleh sebagian masyarakat, dipakai sebagai ragam resmi dan sebagai
kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya.
Pei
dan Geynor (1954:203) mengatakan bahwa bahasa baku adalah dialek suatu bahasa
yang memiliki keistimewaan sastra dan budaya melebihi dialek-dialek lainnya,
disepakati penutut dialek-dialek lain sebagai bahasa yang paling sempurna.
Bahasa merupakan alat komunikasi
penting yang dapat menghubungkan seseorang dengan yang lainnya. Keraf (2005:54)
menyebutkan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai
alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan
oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang
mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
Kata-kata
baku yaitu kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa indonesia yang sudah
ditentukan sebelumnya dan suatu kata bisa disebut dengan kata tidak baku jika
kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa indonesia. Ketidak bakuan
suatu kata bukan hanya ditimbulka oleh salah penulisan saja, akan tetapi bisa
juga disebabkan oleh pengucapan yang salah dan penyusunan suatu kalimat yang
tidak benar. Biasanya kata tidak baku selalu muncul dalam percakapan kita
sehari-hari.
Kata baku biasanya sering digunakan ketika:
- Membuat karya ilmiah.
- Membuat surat lamaran pekerjaan.
- Membuat surat dinas, surat edaran dan surat resmi lainnya.
- Membuat laporan.
- Membuat nota dinas.
- Saat berpidato dan rapat dinas.
- Saat musyawarah atau diskusi.
- Surat menyurat antara organisasi, instansi atau lembaga, dan lain-lain.
B. Pengertian
bahasa tidak baku
Kata
tidak baku adalah yang digunakan tidak sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa
yang sudah ditentukan. Biasanya kata tidak baku sering digunakan saat
percakapan sehari-hari atau dalam bahasa tutur. Bahasa tidak baku sebagai ragam
bahasa yang berkode berbeda dengan kodde bahasa baku, dan dipergunakan
dilingkungan tidak resmi. Ragam bahasa tidak baku dipakai pada situasi santai
dengan keluarga, teman, di pasar, dan tulisan pribadi pada buku harian.. Adapun
faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya kata tidak baku, yang diantaranya
sebagai berikut ini:
- Yang menggunakan bahasa tidak mengetahui bentuk penulisan dari kata yang dia maksud.
- Yang menggunakan bahasa tidak memperbaiki kesalahan dari penggunaan suatu kata, itulah yang menyebabkan kata tidak baku selalu ada.
- Yang menggunakan bahasa sudah terpengaruh oleh orang-orang yang terbiasa menggunakan kata yang tidak baku.
C. CIRI-CIRI
BAHASA BAKU.
1)
Pelafalan
sebagai bagian fonologi bahasa Indonesia baku adalah pelafalan yang
relatif bebas dari atau sedikit diwarnai bahasa daerah atau dialek.
CONTOH KALIMAT:
ü
Kata
/ Alquran / diucapkan / Alquran / bukan / Al-Qur’an
ü
Kata
/ Mukjizat / diucapkan / Mukjizat / bukan / Mu’jizat
ü
Kata
/ Ijazah / diucapkan / ijazah / bukan / Ijasah
ü
Kata
/ Jumat / diucapkan / jumat / bukan / Jum’at
ü
Kata
/ Doa / diucapkan / Doa / bukan / Do’a
ü
Kata
/ Makhluk / diucapkan / Makhluk / bukan / Mahluk
2)
Bentuk
kata yang berawalan me- dan ber- dan
lain-lain sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis atau
diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kata.
CONTOH KALIMAT:
ü
Badai
puting beliung menyerang kampung yang
banyak penduduknya
Aktivitas sudah
berjalan dengan baik
ü
Zaki
mempunyai sepatu baru
Setiap sore raina bermain di taman berlabuh.
ü
Khoirinnisa
mempunyai tas baru
Setiap pagi ibu berbelanja kepasar
ü
Abdul
selalu mengejek teman sebangkunya
Ghozaly bersedih ketika dimarah ibunya
ü
Banjir
menyerang kampung yang banyak
penduduknya itu
3)
Konjungsi
sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan
tetap di dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT:
ü Manusia
banyak mempunyai Akhlak yang baik atau
buruk
ü
Ibu ingin ke tanah suci tetapi dana belum mencukupi
ü
Tukang penjahit itu pandai
merajut baju
ü Raisah
peringkat 1 namun dia tetap rendah
hati
ü
Kakak ingin menikah tetapi
ingin juga kuliah
ü
Sampai
besok pun tidak akan selesai karena antrian
habis
4)
Partikel
–kah, -lah dan –pun sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia
baku ditulis secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü
Bagaimanapun kita harus menaati peraturan
lalu lintas
ü
Siapapun berhak menyatakan pendapat
ü
Bacalah buku itu dengan teliti
ü
Bagaimanakah kita bisa menjadi kepribadian
yang baik?
ü
Apakah
kamu tidak keberatan?
ü
Terimalah
pemberian dariku
5)
Preposisi
atau kata dengan sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku dituliskan
secara jelas dan tetap dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü
Saya
bertemu dengan Ayah kemarin
ü
Paman
saya datang dari Arab Saudi
ü
Tahun
depan saya ingin ke malaysia
ü
Namaku
pemberian dari ibuku
ü
Tas
itu di beri oleh ibuku
6)
Bentuk
kata ulang atau reduplikasi sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku
ditulis secara jelas dan tetap sesuai dengan fungsi dan tempatnya di dalam
kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü
Kawan-kawan marko bermain bola
ü
Hati-hati ketika mengendarai motor dijalan
ü
Saya
dan keluarga jalan-jalan ke taman
berlabuh
ü
Amirul
ramai-ramai bersama temannya ke
pameran
ü
Digudang
itu banyak sekali sarang laba-laba
ü
Macam-macam jenis buah kurma
7)
Kata
ganti atau polaritas tutur sapa sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia
baku ditulis secara jelas dan tetap dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü
Saya-Anda bisa diajak bekerjasama dengan
baik
ü
Saya-Saudara memang harus bisa berpengertian yang
sama.
ü
Aku-Engkau sama-sama berkepentingan tentang
problem itu.
ü
Aku-Kamu bisa meraih impian
ü
Saya-Anda bisa mencoba agar berpengalaman
8)
Pola
kelompok kata kerja aspek + agen + kata kerja sebagai bagian kalimat
bahasa Indonesia baku ditulis dan diucapkan secara jelas dan tetap di
dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü
Ruang
rapat sudah saya atur
ü
Kiriman
buku sudah saya terima
ü
Surat
anda sudah saya baca
ü
Hadiahmu
sudah saya terima
ü
Air
panas kamu sudah saya siapkan
ü
Buku
itu sudah saya kirim
ü
Undangan
pernikahan itu sudah saya terima
ü
Ceramah
itu sudah saya dengar
ü
Lantai
itu sudah kami bersihkan
9)
Konstruksi
atau bentuk sintesis sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis
atau diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü
Dijelaskan
ü
Dipahami
ü
keponakannya
ü
Jumlahnya
ü
Menjual
ü
Dikomentari
ü
Saudaranya
ü
Harganya
10) Fungsi gramatikal (subyek, predikat,
obyek sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis atau
diucapkan secara jelas dan tetap dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü
Kepala
sekolah pergi keluar kota
ü
Rumah
itu bagus seperti Vila
ü
Saya
sedang menyuci piring
ü
Adiknya
menangis terpeleset
ü
Paman
saya motornya baru
ü
Ipar
saya rumah baru
ü
Ibu
pergi ke pasar dayak
11) . Struktur
kalimat baik tunggal maupun majemuk ditulis atau diucapkan secara jelas dan
tetap sebagai bahagian kalimat bahasa Indonesia baku di dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü
Mereka sedang mengikuti perkuliahan dasar-dasar
Akuntansi I. Sebelum analisis data dilakukannya, dia mengumpulkan
data secara sungguh-sungguh
ü
Mereka
sedang mengikuti rapat
ü
Kami
melaksanakan sholat jumat berjamaah
ü
Semua temanku belajar, ketika aku datang terlambat
ü
Yeyeng tidak lulus skripsi, karena skripsinya banyak
yg salah
ü
Setiap lebaran ibu membuat kue
ü Ibu pergi ke
pasar
12) Kosakata sebagai bahagian semantik bahasa
Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap dalam kalimat
CONTOH KALIMAT :
ü
Memberitahukan
ü
Silahkan
ü
Begitu
ü
Hari
ini
ü
Bertemu
13) Ejaan resmi sebagai bahagian bahasa Indonesia baku
ditulis secara jelas dan tetap baik kata,
kalimat, maupun tanda-tanda baca sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan.
14) Peristilahan
baku sebagai bahagian bahasa Indonesia baku dipakai sesuai dengan pedoman
peristilahan Penulisan istilah yang dikeluarkan oleh Pemerintah melalui Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ( Purba, 1996 : 63-64 )
D. FUNGSI
BAHASA BAKU
Menurut Hasan Alwi, dkk (2003:15) bahasa baku
mendukung empat fungsi, yaitu:
Fungsi pemersatu. Indonesia terdiri dari beragam suku dan bahasa daerah. Jika setiap masyarakat menggunakan bahasa daerahnya, maka dia tidak dapat berkomunikasi dengan masyarakat dari daerah lain. Fungsi bahasa baku memperhubungkan semua penutur berbagai dialek bahasa itu. Dengan demikian, bahasa baku mempersatukan mereka menjadi satu masyarakat bangsa.
Fungsi pemberi kekhasan. Suatu bahasa baku membedakan bahasa itu dari bahasa yang lain. Melalui fungsi itu, bahasa baku memperkuat perasaan kepribadian nasional masyarakat bahasa yang bersangkutan.
Fungsi pembawa kewibawaan. Pemilikan bahasa baku membawa serta wibawa atau prestise. Fungsi pembawa wibawa bersangkutan dengan usaha orang mencapai kesederajatan dengan peradaban lain yang dikagumi lewat pemerolehan bahasa baku sendiri. Penutur atau pembicara (masyarakat) yang mahir berbahasa Indonesia dengan baik dan benar memperoleh wibawa di mata orang lain.
Fungsi kerangka acuan. Sebagai kerangka acuan bagi pemakaian bahasa dengan adanya norma dan kaidah (yang dikodifikasi) yang jelas. Norma dan kaidah itu menjadi tolak ukur bagi benar tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau golongan
Fungsi pemersatu. Indonesia terdiri dari beragam suku dan bahasa daerah. Jika setiap masyarakat menggunakan bahasa daerahnya, maka dia tidak dapat berkomunikasi dengan masyarakat dari daerah lain. Fungsi bahasa baku memperhubungkan semua penutur berbagai dialek bahasa itu. Dengan demikian, bahasa baku mempersatukan mereka menjadi satu masyarakat bangsa.
Fungsi pemberi kekhasan. Suatu bahasa baku membedakan bahasa itu dari bahasa yang lain. Melalui fungsi itu, bahasa baku memperkuat perasaan kepribadian nasional masyarakat bahasa yang bersangkutan.
Fungsi pembawa kewibawaan. Pemilikan bahasa baku membawa serta wibawa atau prestise. Fungsi pembawa wibawa bersangkutan dengan usaha orang mencapai kesederajatan dengan peradaban lain yang dikagumi lewat pemerolehan bahasa baku sendiri. Penutur atau pembicara (masyarakat) yang mahir berbahasa Indonesia dengan baik dan benar memperoleh wibawa di mata orang lain.
Fungsi kerangka acuan. Sebagai kerangka acuan bagi pemakaian bahasa dengan adanya norma dan kaidah (yang dikodifikasi) yang jelas. Norma dan kaidah itu menjadi tolak ukur bagi benar tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau golongan
E. Fungsi Bahasa Tidak Baku
Bahasa tidak baku adalah bahasa yang digunakan dalam kehidupan santai (tidak resmi) sehari-hari yang biasanya digunakan pada keluarga, teman, dan di pasar. Fungsi penggunaan bahasa nonbaku adalah untuk mengakrabkan diri dan menciptakan kenyamanan serta kelancaran saat berkomunikasi (berbahasa).
Bahasa tidak baku adalah bahasa yang digunakan dalam kehidupan santai (tidak resmi) sehari-hari yang biasanya digunakan pada keluarga, teman, dan di pasar. Fungsi penggunaan bahasa nonbaku adalah untuk mengakrabkan diri dan menciptakan kenyamanan serta kelancaran saat berkomunikasi (berbahasa).
F. Ciri-ciri Bahasa Baku dan Tidak Baku
1. Ciri Bahasa Baku
Menurut Hasan Alwi, dkk (2003:14) ciri-ciri bahasa baku terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Ragam bahasa baku memiliki sifat kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Baku atau standar tidak dapat berubah setiap saat.
b. Memiliki sifat kecendikian. Perwujudannya dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal.
c. Baku atau standar beranggapan adanya keseragaman. Proses pembakuan sampai taraf tertentu berarti proses penyeragaman kaidah, bukan penyamaan ragam bahasa, atau penyeragaman variasi bahasa.
1. Ciri Bahasa Baku
Menurut Hasan Alwi, dkk (2003:14) ciri-ciri bahasa baku terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Ragam bahasa baku memiliki sifat kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Baku atau standar tidak dapat berubah setiap saat.
b. Memiliki sifat kecendikian. Perwujudannya dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal.
c. Baku atau standar beranggapan adanya keseragaman. Proses pembakuan sampai taraf tertentu berarti proses penyeragaman kaidah, bukan penyamaan ragam bahasa, atau penyeragaman variasi bahasa.
Ciri-ciri lain bahasa baku
1. Tidak terpengaruh bahasa daerah
2. Tidak terpengaruh bahasa asing
3. Bukan ragam bahasa percakapan sehari-hari
4. Pemakaian imbuhannya secara eksplisit
5. Pemakaian yang sesuai dengan konteks kalimat
6. Tidak terkontaminasi dan tidak rancu
1. Tidak terpengaruh bahasa daerah
2. Tidak terpengaruh bahasa asing
3. Bukan ragam bahasa percakapan sehari-hari
4. Pemakaian imbuhannya secara eksplisit
5. Pemakaian yang sesuai dengan konteks kalimat
6. Tidak terkontaminasi dan tidak rancu
Ciri-ciri bahasa tidak baku
Bahasa nonbaku juga memiliki ciri khas yaitu:
1. walaupun terkesan berbeda dengan bahasa baku, tetapi memiliki arti yang sama.
2. dapat terpengaruh oleh perkembangan zaman.
3. dapat terpengaruh oleh bahasa asing.
4. digunakan pada situasi santai/tidak resmi.
Bahasa nonbaku juga memiliki ciri khas yaitu:
1. walaupun terkesan berbeda dengan bahasa baku, tetapi memiliki arti yang sama.
2. dapat terpengaruh oleh perkembangan zaman.
3. dapat terpengaruh oleh bahasa asing.
4. digunakan pada situasi santai/tidak resmi.
G. Pemakaian Bahasa Indonesia Baku dan
Tidak Baku dengan Baik dan Benar
Bahasa Indonesia baku dan nonbaku mempunyai kode atau ciri bahasa dan fungsi pemakaian yang berbeda. Kode atau ciri dan fungsi setiap ragam bahasa itu saling berkait. Bahasa Indonesia baku berciri seragam, sedangkan ciri bahasa Indonesia nonbaku beragam. Pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah bahasa yang dibakukan atau yang dianggap baku adalah pemakaian bahasa Indonesia baku dengan benar. Dengan demikian, pemakaian bahasa Indonesia baku dengan benar adalah pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah bahasa atau gramatikal bahasa baku.
Bahasa Indonesia baku dan nonbaku mempunyai kode atau ciri bahasa dan fungsi pemakaian yang berbeda. Kode atau ciri dan fungsi setiap ragam bahasa itu saling berkait. Bahasa Indonesia baku berciri seragam, sedangkan ciri bahasa Indonesia nonbaku beragam. Pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah bahasa yang dibakukan atau yang dianggap baku adalah pemakaian bahasa Indonesia baku dengan benar. Dengan demikian, pemakaian bahasa Indonesia baku dengan benar adalah pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah bahasa atau gramatikal bahasa baku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar