Senin, 06 Maret 2017

BAHASA BAKU DAN BAHASA TIDAK BAKU



BAHASA BAKU DAN TIDAK BAKU

A.     Pengertian bahasa baku
            Halim (1980) mengatakan bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian masyarakat, dipakai sebagai ragam resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dan penggunaannya.
Pei dan Geynor (1954:203) mengatakan bahwa bahasa baku adalah dialek suatu bahasa yang memiliki keistimewaan sastra dan budaya melebihi dialek-dialek lainnya, disepakati penutut dialek-dialek lain sebagai bahasa yang paling sempurna.
Bahasa merupakan alat komunikasi penting yang dapat menghubungkan seseorang dengan yang lainnya. Keraf (2005:54) menyebutkan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
Kata-kata baku yaitu kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa indonesia yang sudah ditentukan sebelumnya dan suatu kata bisa disebut dengan kata tidak baku jika kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa indonesia. Ketidak bakuan suatu kata bukan hanya ditimbulka oleh salah penulisan saja, akan tetapi bisa juga disebabkan oleh pengucapan yang salah dan penyusunan suatu kalimat yang tidak benar. Biasanya kata tidak baku selalu muncul dalam percakapan kita sehari-hari.
Kata baku biasanya sering digunakan ketika:
  • Membuat karya ilmiah.
  • Membuat surat lamaran pekerjaan.
  • Membuat surat dinas, surat edaran dan surat resmi lainnya.
  • Membuat laporan.
  • Membuat nota dinas.
  • Saat berpidato dan rapat dinas.
  • Saat musyawarah atau diskusi.
  • Surat menyurat antara organisasi, instansi atau lembaga, dan lain-lain.

B.     Pengertian bahasa tidak baku
Kata tidak baku adalah yang digunakan tidak sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa yang sudah ditentukan. Biasanya kata tidak baku sering digunakan saat percakapan sehari-hari atau dalam bahasa tutur. Bahasa tidak baku sebagai ragam bahasa yang berkode berbeda dengan kodde bahasa baku, dan dipergunakan dilingkungan tidak resmi. Ragam bahasa tidak baku dipakai pada situasi santai dengan keluarga, teman, di pasar, dan tulisan pribadi pada buku harian.. Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya kata tidak baku, yang diantaranya sebagai berikut ini:
  • Yang menggunakan bahasa tidak mengetahui bentuk penulisan dari kata yang dia maksud.
  • Yang menggunakan bahasa tidak memperbaiki kesalahan dari penggunaan suatu kata, itulah yang menyebabkan kata tidak baku selalu ada.
  • Yang menggunakan bahasa sudah terpengaruh oleh orang-orang yang terbiasa menggunakan kata yang tidak baku.

C.     CIRI-CIRI BAHASA BAKU.
1)      Pelafalan sebagai bagian fonologi bahasa Indonesia baku adalah pelafalan yang relatif bebas dari atau sedikit diwarnai bahasa daerah atau dialek.
CONTOH KALIMAT:
ü  Kata / Alquran / diucapkan / Alquran / bukan / Al-Qur’an
ü  Kata / Mukjizat / diucapkan / Mukjizat / bukan / Mu’jizat
ü  Kata / Ijazah / diucapkan / ijazah / bukan / Ijasah
ü  Kata / Jumat / diucapkan / jumat / bukan / Jum’at
ü  Kata / Doa / diucapkan / Doa / bukan / Do’a
ü  Kata / Makhluk / diucapkan / Makhluk / bukan / Mahluk

2)      Bentuk kata yang berawalan me- dan ber- dan lain-lain sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kata.
CONTOH KALIMAT:
ü  Badai puting beliung menyerang kampung yang banyak penduduknya
Aktivitas sudah berjalan dengan baik
ü  Zaki mempunyai sepatu baru
Setiap sore raina bermain di taman berlabuh.
ü  Khoirinnisa mempunyai tas baru
Setiap pagi ibu berbelanja kepasar
ü  Abdul selalu mengejek teman sebangkunya
Ghozaly bersedih ketika dimarah ibunya
ü  Banjir menyerang kampung yang banyak penduduknya itu

3)      Konjungsi sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT:
ü  Manusia banyak mempunyai Akhlak yang baik atau buruk
ü  Ibu ingin ke tanah suci tetapi dana belum mencukupi
ü  Tukang penjahit itu pandai merajut baju
ü  Raisah peringkat 1 namun dia tetap rendah hati
ü  Kakak ingin menikah tetapi ingin juga kuliah
ü  Sampai besok pun tidak akan selesai karena antrian habis

4)      Partikel –kah, -lah dan ­–pun sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü  Bagaimanapun kita harus menaati peraturan lalu lintas
ü  Siapapun berhak menyatakan pendapat
ü  Bacalah buku itu dengan teliti
ü  Bagaimanakah kita bisa menjadi kepribadian yang baik?
ü  Apakah kamu tidak keberatan?
ü  Terimalah pemberian dariku

5)      Preposisi atau kata dengan sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku dituliskan secara jelas dan tetap dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü  Saya bertemu dengan Ayah kemarin
ü  Paman saya datang dari Arab Saudi
ü  Tahun depan saya ingin ke malaysia
ü  Namaku pemberian dari ibuku
ü  Tas itu di beri oleh ibuku

6)      Bentuk kata ulang atau reduplikasi sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap sesuai dengan fungsi dan tempatnya di dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü  Kawan-kawan marko bermain bola
ü  Hati-hati ketika mengendarai motor dijalan
ü  Saya dan keluarga jalan-jalan ke taman berlabuh
ü  Amirul ramai-ramai bersama temannya ke pameran
ü  Digudang itu banyak sekali sarang laba-laba
ü  Macam-macam jenis buah kurma

7)      Kata ganti atau polaritas tutur sapa sebagai bagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü  Saya-Anda bisa diajak bekerjasama dengan baik
ü  Saya-Saudara  memang harus bisa berpengertian yang sama.
ü  Aku-Engkau sama-sama berkepentingan tentang problem itu.
ü  Aku-Kamu bisa meraih impian
ü  Saya-Anda bisa mencoba agar berpengalaman

8)      Pola kelompok kata kerja aspek + agen + kata kerja sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis dan diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü  Ruang rapat sudah saya atur
ü  Kiriman buku sudah saya terima
ü  Surat anda sudah saya baca
ü  Hadiahmu sudah saya terima
ü  Air panas kamu sudah saya siapkan
ü  Buku itu sudah saya kirim
ü  Undangan pernikahan itu sudah saya terima
ü  Ceramah itu sudah saya dengar
ü  Lantai itu sudah kami bersihkan

9)      Konstruksi atau bentuk sintesis sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü  Dijelaskan
ü  Dipahami
ü  keponakannya
ü  Jumlahnya
ü  Menjual
ü  Dikomentari
ü  Saudaranya
ü  Harganya

10)  Fungsi gramatikal (subyek, predikat, obyek sebagai bagian kalimat bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü  Kepala sekolah pergi keluar kota
ü  Rumah itu bagus seperti Vila
ü  Saya sedang menyuci piring
ü  Adiknya menangis terpeleset
ü  Paman saya motornya baru
ü  Ipar saya rumah baru
ü  Ibu pergi ke pasar dayak

11)  . Struktur kalimat baik tunggal maupun majemuk ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap sebagai bahagian kalimat bahasa Indonesia baku di dalam kalimat.
CONTOH KALIMAT :
ü  Mereka sedang mengikuti perkuliahan dasar-dasar Akuntansi I. Sebelum analisis data dilakukannya, dia mengumpulkan data secara sungguh-sungguh
ü  Mereka sedang mengikuti rapat
ü  Kami melaksanakan sholat jumat berjamaah
ü  Semua temanku belajar, ketika aku datang terlambat
ü  Yeyeng tidak lulus skripsi, karena skripsinya banyak yg salah
ü  Setiap lebaran ibu membuat kue
ü  Ibu pergi ke pasar

12)   Kosakata sebagai bahagian semantik bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap dalam kalimat
CONTOH KALIMAT :
ü    Memberitahukan
ü    Silahkan
ü    Begitu
ü    Hari ini
ü    Bertemu

13)   Ejaan resmi sebagai bahagian bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap baik  kata, kalimat, maupun tanda-tanda baca sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

14)  Peristilahan baku sebagai bahagian bahasa Indonesia baku dipakai sesuai dengan pedoman peristilahan Penulisan istilah yang dikeluarkan oleh Pemerintah melalui Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ( Purba, 1996 : 63-64 )




D.     FUNGSI BAHASA BAKU
Menurut Hasan Alwi, dkk (2003:15) bahasa baku mendukung empat fungsi, yaitu:
Fungsi pemersatu. Indonesia terdiri dari beragam suku dan bahasa daerah. Jika setiap masyarakat menggunakan bahasa daerahnya, maka dia tidak dapat berkomunikasi dengan masyarakat dari daerah lain. Fungsi bahasa baku memperhubungkan semua penutur berbagai dialek bahasa itu. Dengan demikian, bahasa baku mempersatukan mereka menjadi satu masyarakat bangsa.
Fungsi pemberi kekhasan. Suatu bahasa baku membedakan bahasa itu dari bahasa yang lain. Melalui fungsi itu, bahasa baku memperkuat perasaan kepribadian nasional masyarakat bahasa yang bersangkutan.
Fungsi pembawa kewibawaan. Pemilikan bahasa baku membawa serta wibawa atau prestise. Fungsi pembawa wibawa bersangkutan dengan usaha orang mencapai kesederajatan dengan peradaban lain yang dikagumi lewat pemerolehan bahasa baku sendiri. Penutur atau pembicara (masyarakat) yang mahir berbahasa Indonesia dengan baik dan benar memperoleh wibawa di mata orang lain.
Fungsi kerangka acuan. Sebagai kerangka acuan bagi pemakaian bahasa dengan adanya norma dan kaidah (yang dikodifikasi) yang jelas. Norma dan kaidah itu menjadi tolak ukur bagi benar tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau golongan
E.     Fungsi Bahasa Tidak Baku
Bahasa tidak baku adalah bahasa yang digunakan dalam kehidupan santai (tidak resmi) sehari-hari yang biasanya digunakan pada keluarga, teman, dan di pasar. Fungsi penggunaan bahasa nonbaku adalah untuk mengakrabkan diri dan menciptakan kenyamanan serta kelancaran saat berkomunikasi (berbahasa).
F.      Ciri-ciri Bahasa Baku dan Tidak Baku
1. Ciri Bahasa Baku
Menurut Hasan Alwi, dkk (2003:14) ciri-ciri bahasa baku terbagi menjadi tiga, yaitu:
a. Ragam bahasa baku memiliki sifat kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap. Baku atau standar tidak dapat berubah setiap saat.
b. Memiliki sifat kecendikian. Perwujudannya dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal.
c. Baku atau standar beranggapan adanya keseragaman. Proses pembakuan sampai taraf tertentu berarti proses penyeragaman kaidah, bukan penyamaan ragam bahasa, atau penyeragaman variasi bahasa.
 Ciri-ciri lain bahasa baku
1. Tidak terpengaruh bahasa daerah
2. Tidak terpengaruh bahasa asing
3. Bukan ragam bahasa percakapan sehari-hari
4. Pemakaian imbuhannya secara eksplisit
5. Pemakaian yang sesuai dengan konteks kalimat
6. Tidak terkontaminasi dan tidak rancu
 Ciri-ciri bahasa tidak baku
Bahasa nonbaku juga memiliki ciri khas yaitu:
1. walaupun terkesan berbeda dengan bahasa baku, tetapi memiliki arti yang sama.
2. dapat terpengaruh oleh perkembangan zaman.
3. dapat terpengaruh oleh bahasa asing.
4. digunakan pada situasi santai/tidak resmi.
G.    Pemakaian Bahasa Indonesia Baku dan Tidak Baku dengan Baik dan Benar
Bahasa Indonesia baku dan nonbaku mempunyai kode atau ciri bahasa dan fungsi pemakaian yang berbeda. Kode atau ciri dan fungsi setiap ragam bahasa itu saling berkait. Bahasa Indonesia baku berciri seragam, sedangkan ciri bahasa Indonesia nonbaku beragam. Pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah bahasa yang dibakukan atau yang dianggap baku adalah pemakaian bahasa Indonesia baku dengan benar. Dengan demikian, pemakaian bahasa Indonesia baku dengan benar adalah pemakaian bahasa yang mengikuti kaidah bahasa atau gramatikal bahasa baku.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar